Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarah Berdirinya Fuji Television ( 株式会社フジテレビジョン )

 Fuji Television Network, Inc. (株式会社フジテレビジョン Kabushiki Gaisha Fuji Television?, PT Televisi Fuji) adalah stasiun televisi di Jepang yang memancarkan siaran ke kawasan Kanto dan sekitarnya. Stasiun televisi ini sering disebut Fuji TV (フジテレビ Fuji Terebi?), atau CX yang berasal dari tanda panggilan JOCX-TV.

Fuji Television adalah bisnis inti milik konglomerat media massa terbesar di Jepang, Fujisankei Group yang memiliki 76 anak perusahaan, 5 badan hukum, 3 museum seni, dan lebih dari 10 ribu karyawan.[2] Di seluruh Jepang terdapat 28 stasiun televisi yang bergabung dalam Fuji Network System (FNS) dan Fuji Network Sport, serta Fuji News Network (FNN) sebagai kerjasama pertukaran materi acara dan berita.

Selain siaran pancaran darat (TV lokal), Fuji TV memiliki siaran digital Fuji TV 721 dan Fuji TV 739. Keduanya bisa diterima melalui TV kabel, TV satelit berlangganan SKY PerfecTV! (124 derajat Bujur Timur), atau e2 by sukapa dari Satellite Service (kontraktor SKY PerfecTV!).
Sejarah


* 18 November 1957 - Nippon Cultural Broadcasting dan Nippon Broadcasting System, serta perusahaan film Tōhō, Daiei Motion Picture Company dan Shōchiku bersama-sama mendirikan Fuji Television (富士テレビジョン).
* Desember 1958 - Penulisan kata "Fuji" pada nama Fuji Television diganti dengan aksara katakana (フジテレビジョン).
* 1 Maret 1959 - Siaran TV lokal JOCX-TV dimulai secara resmi. Siaran perdana Mainichi Broadcasting System (MBS) Osaka dan Kyushu Asahi Broadcasting (KBC) Kyushu juga dimulai pada hari yang sama. Di wilayah Kansai, Kansai Telecasting Corporation (KTV) dan Mainichi Broadcasting System (MBS) sama-sama tergabung dalam jaringan Fuji TV, tetapi MBS memisahkan diri pada tahun berikutnya.
* Juni 1959 - Penandatanganan perjanjian kerjasama Fuji Network System (FNS) antara Fuji TV dan Tokai TV, Kansai TV (KTV), serta Kyushu Asahi Broadcasting.
* 3 September 1964 - Bersamaan dengan pembukaan Olimpiade Tokyo, Fuji TV memulai siaran berwarna. Acara Boku wa Mitanda merupakan siaran berwarna pertama dari Fuji TV. Dimulai pukul 10 pagi dengan masa tayang 30 menit, acara tersebut menjadikan Fuji TV sebagai televisi ke-3 yang melakukan siaran berwarna di Tokyo.
* Oktober 1966 - Fuji News Network (FNN) dimulai.
* Oktober 1969 - Fuji Network System (FNS) dimulai.
* 1971 - Penutupan divisi rumah produksi dan penggantian statusnya menjadi anak perusahaan (Fuji Pony, Wide Pro, dsb.). Selain siaran berita, olahraga, dan siaran langsung, semua acara dibuat oleh rumah produksi (hingga tahun 1980).
* 1973 - Fuji TV sepenuhnya melakukan siaran berwarna setelah acara Kinkan Shiroto Minyō Meijinsen menjadi berwarna.
* Oktober 1978 - Fuji TV menjadi siaran televisi ke-3 di Jepang yang melakukan siaran stereo dan siaran dwibahasa (pengeras suara kiri-kanan berbeda bahasa) setelah Nippon Television dan NHK. Tayangan stereo pertama adalah pertandingan bisbol dari Stadion Meiji Jingu.
* 1984 - Direktur Utama Fujisankei Communications Group, Haruo Shikanai mengumumkan rencana perluasan usaha, termasuk TV satelit, perluasan studio, dan kepindahan stasiun televisi ke Odaiba.
* Desember 1985 - Siaran teleteks yang pertama.
* 1 April 1986 - Logo Fuji TV diganti menjadi "Medama" (bola mata) bersamaan dengan penyatuan identitas perusahaan Fujisankei Group.
* 1988 - Perjalanan kereta api Orient Express dari Paris ke Tokyo untuk memperingati hari jadi ke-30 Fuji Television. Orient Express diangkut dengan kapal laut dari Hong Kong menuju Prefektur Yamaguchi.
* November 1990 - Dimulainya siaran percobaan EDTV (Enhanced Definition Television).
* November 1994 - Siaran percobaan televisi resolusi tinggi HDTV (High Definition Television) (dikenal di Jepang sebagai "Hi Vision") dimulai.
* November 1994, Fuji TV mendapat izin menyelenggarakan siaran percobaan Hi Vision secara resmi.
* April 1995 - Fuji TV merger dengan Fujisankei Grup.
* September 1995 - Siaran dengan sistem EDTV-II (Wide-Clear Vision) dimulai.
* Agustus 1996 - Selesainya pembangunan gedung studio baru di Daiba, Minato-ku, Tokyo. Fuji TV mulai pindah ke gedung baru.
* 10 Maret 1997 - Proses pindah selesai, dan secara resmi Fuji TV berlokasi di Daiba, Minato-ku, Tokyo.
* Agustus 1997 - Saham Fuji TV mulai diperdagangkan di Bursa Saham Tokyo seksi I (perusahaan besar).
* April 1998 - Kontraktor Fuji TV untuk melakukan 2 siaran TV satelit disahkan menurut Undang-undang Penyiaran Jepang.
* April 1998 - Saluran TV satelit Fuji TV 721 dimulai.
* April 1999 - Saluran TV satelit Fuji TV 739 dimulai.
* 1 Desember 2000 - Saluran TV digital BS Fuji mulai siaran. BS adalah singkatan dari Broadcasting Satellite.
* 1 Desember 2003 - Siaran digital TV Lokal JOCX-DTV dimulai.
* 17 Januari 2005 - Fuji TV mengumumkan rencana mengambil alih stasiun radio Nippon Broadcasting System yang masih berafiliasi dengan Fujisankei Group. Sejumlah 36,47% saham Nippon Broadcasting System dimiliki Fuji TV.
* 23 Mei 2005 - Fuji TV membeli semua saham Livedoor Partners yang kemudian berganti nama sebagai Livedoor Financial Holdings.[3]
* 15 Juli 2005 - Siaran televisi internet jalurlebar Fuji TV On Demand (www.fujitvondemand.jp) secara resmi dimulai.
* 1 September 2005 - Fuji TV dan Nippon Broadcasting System tukar-menukar saham, dan Nippon Broadcasting System menjadi anak perusahaan.
* 23 Januari 2006 - CEO dan 3 eksekutif Livedoor ditahan atas tuduhan pelanggaran undang-undang sekuritas.[4]
* 15 Maret 2006 - Layanan podcasting Fujipod dimulai di situs web Fuji TV.
* 16 Maret 2006 - Semua saham Livedoor yang dimiliki Fuji TV dijual kepada konglomerat media USEN dengan harga 9,5 milyar yen (kerugian Fuji TV sebesar 34,5 milyar yen).
* 1 April 2006 - Dimulainya siaran digital TV lokal sistem 1seg untuk telepon genggam.[5]
* 3 April 2006 - Fuji Television menjadi perusahaan induk (holding company) bagi Fujisankei Group.




sumber belajar-nihongo

Kucing Pembawa Hoki / Keberuntungan 'Maneki Neko'


Maneki Neko adalah figur kucing “Selamat Datang” yang dipercaya membawa keberuntungan & kesejahteraan. Maneki neko berasal dari Jepang, merupakan patung kucing yang dipercaya membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Patung ini menggambarkan kucing lokal dari jepang (Japanese Bobtail) dengan salah satu kaki depan terangkat, seolah olah melambai-lambai. Maneki neko biasanya dipajang di Toko, Restoran dan tempat usaha lain.
Figur kucing ini telah diproduksi menjadi berbagai alat & bentuk seperti gantungan kunci, celengan, pengharum ruangan, dll. Berbagai bahan juga dipergunakan. Dari yang paling purah seperti plastik, kayu dan kertas hingga yang mahal seperti jade atau giok. Berbagai bentuk, warna dan ornamen tambahan dipercaya mempunyai fungsi tertentu
.
Kaki Depan
 Kepercayaan mengenai kaki mana yang terangkat, berbeda-beda tergantung waktu dan tempat. Kepercayaan yang paling umum biasanya bila kaki kiri yang terangkat berfungsi untuk menarik pelanggan, sedangkan kaki kanan bertujuan menarik kemakmuran dan keberuntungan. Kadang-kadang ada juga yang kedua kakinya terangkat. Ada juga yang menyatakan kaki kiri terangkat, cocok untuk bar/tempat minum sake, sedangkan kaki kanan cocok untuk toko.


 Dipercaya, semakin tinggi kaki terangkat, semakin besar juga keberuntungan atau kemakmuran yang akan datang. Beberapa bentuk maneki neko dilengkapi dengan baterai atau sel tenaga surya agar dapat menggerakan kakinya ke depan-belakang, seolah melambai-lambai secara terus menerus.

 

 

Warna

Meskipun warna aslinya adalah putih, Maneki Neko dibuat dengan warna dan atribut yang berbeda. Setiap warna dipercaya mempunyai manfaat yang berbeda.
Tiga warna (Tricolor/Calico/Tortie & White): warna dasar putih dengan pola warana hitam dan oranye yang acak. Pola warna ini merupakan warna yang paling dikenal dan dipercaya dapat membawa keberuntungan. Kepercayaannini berhubungan dengan jarangnya pola warna ini muncul pada kucing japanese bobtail. Di Jepang warna ini disebut Mi-ke yang berarti tiga warna.

 Putih: mengindikasikan kemurnian, kesucian dan merupakan warna paling populer kedua.
Hitam: dipercaya dapat menjaga kesehatan pemiliknya dan mencegah datangnya setan.
Merah: juga merupakan warna pelindung. Dipercaya dapat menghalangi datangnya sakit & arwah jahat.
Emas: berhubungan dengan kemakmuran.
Merah muda/Pink: meskipun bukan warna aslinya, warna ini cukup populer karena berhubungan dengan rasa cinta & kasih sayang.
Hijau: dipercaya dapat meningkatkan pencapaian akademik/karir.





Ornamen : kalung, lonceng & syal/scarf
Maneki Neko juga biasanya mempunyai beberapa tambahan ornamen di lehernya. Bisa berupa kalung lengkap dengan lonceng kecil atau bisa juga kain yang diikatkan di leher (scarf). Yang paling populer adalah kalung berwarna merah yang terbuat dari hichirimen (bunga merah) lengkap dengan lonceng kecil. dekorasi ini adalah tiruan dari apa yang biasanya dipakai oleh kucing-kucing yang dipelihara oleh keluarga bangsawan pada zaman Edo.
Kain yang diikatkan dileher berhubungan dengan fungsinya sebagai pelindung. Dekorasi yang mirip juga terdapat pada patung Bodhistwa Jizo, pelindung yang sering ditemukan di gerbang kuil atau tempat pemakaman. Maneki Neko kadang-kadang digambarkan sedang memegang koin yang disebut koban. Koban adalah uang yang dipakai pada zaman Edo. Figur patung ini dipercaya membaya keberuntungan dan kemakmuran, sehingga sering digunakan sebagai celengan.

Legenda Maneki Neko

Banyak legenda Jepang yang mengisahkan asal Maneki Neko. Dari tujuh legenda yang banyak dikenal, ada tiga yang paling terkenal. Yaitu Legenda Kuil Goutokuji, Pramuria Usugumo dari Yoshiwara dan Legenda Wanita Tua dari Imado.
Kuil Goutokuji
Pada awal zaman Edo (abad ke-17) ada sebuah kuil yang terdapat di Setagaya, bagian barat Tokyo. Pendeta kuil tersebut memelihara seekor kucing bernama Tama. Pendeta tersebut sering berbicara dan kadang-kadang sedikit mengeluh kepada Tama mengenai kondisi kuilnya yang miskin.” Tama, meskipun miskin aku memeliharamu di kuil ini, bisakah kamu melakukan sesuatu untuk kuil ini ?”,harap sang pendeta pada Tama.
Suatu ketika, seorang penguasa dari daerah Hikone (bagian barat Tokyo), bernama Naotaka Li pulang berburu. Ia berteduh menghindari hujan di bawah pohon besar yang terdapat di depan gerbang kuil. Seekor kucing memberi isyarat mengundang naotaka untuk berteduh di genbang kuil. Tidak berapa lama setelah naotaka berteduh di gerbang kuil, pohon besar tersebut disambar petir. Nyawa Naotaka terselamatkan berkat Tama.
Setelah kejadian tersebut Naotaka Li dan keluarganya menunjuk kuil tersebut menjadi kuil keluarga dan merubah namanya menjadi Goutokuji. Kuil tersebut menjadi makmur setelah didukung oleh keluarga Li. Tama dikuburkan di pekuburan kucing di kuil tersebut dan diciptakan patung kucing (Maneki Neko) untuk mengingatkan orang kepada Tama.
Legenda Usugumo dari Yhoshiwara
Pada zaman Edo banyak terdapat kota-kota kecil yang penuh berbagai macam hiburan gaya Jepang yang disebut Yuukaku. Salah satu yang terkenal adalah Yoshiwara yang terdapat di bagian timur Tokyo.
Ada dua macam wanita yang bekerja di Yoshiwara. Yang terlatih secara profesional dalam hal musik dan menari disebut Geisha, lainnya adalah pramuria yang disebut Yuujo. Geisha kelas atas yang terlatih dalam berbagai kesenian disebut Tayuu.
Pada pertengahan zaman edo (abad ke-18) ada seorang Tayuu yang bernama Usugumo. Ia terkenal juga sebagai penyayang kucing. Kucingnya selalu berada disampingnya kemanapun ia pergi.
Suatu malam, ketika Usugume hendak memasuki toilet, kucingnya menari-narik bajunya dengan kasar. Meskipun diusir dengan susah payah, kucingnya tidakk mau berhenti mengganggunya. Karena ketakutan usugumo meminta bantuan pemilik rumah. Pemilik rumah tersbut datang dan menebas leher kucing tersebut dengan samurai, karena ditakutkan kucing tersebut adalah kucing setan.
Kepala kucing tersebut terbang ke langit-langit toilet, menggigit dan membunuh seekor ular besar yang sedang mengincar usugumo.
Usugumo sangat menyesal karena telah salah membunuh kucingnya. Untuk mengingatkan jasa-jasa kucingnya, salah seorang tamu menghadiahinya patung kucing yang terbuat dari kayu yang harum. Patung kucing inilah yang kemudian berkembang menjadi Maneki Neko.
Legenda Wanita Imado
Pada akhir zaman Edo (abad ke -19), ada seorang wanita tua yang hidup di Imado, Tokyo bagian timur. Karena keadaannya yang sangat miskin, ia tidak mampu lagi merawat kucingnya. Ia berkata pada kucingnya ” Maaf aku terpaksa menelatarkanmu karena kemiskinan ini”.
Malamnya kuicng tersebut hadir dalam mimpinya dan berkata “buatlah patung diriku dari tanah liat, patung tersebut akan membawa keberuntungan”. Setelah jadi, patung tersebut dibeli orang, semakin banyak ia membuat patung, semakin banyak orang yang membelinya. Patung kucing (Maneki neko) tersebut membebaskannya dari kemiskinan.

japanesia

Mengapa Mengucapkan Moshi - Moshi tidak boleh satu kali dan harus berulang ?


Di jepang kata “Moshi Moshi” digunakan untuk mengatakan “Halo” ketika sedang menelpon atau menyapa,yang menjadi pertanyaan kenapa harus diucapkan kata “moshi” sebanyak dua kali?..kenapa tidak sekali saja?..
Berikut adalah kenapa mengucapkan “Moshi-Moshi” harus dua kata:
Di Jepang sana mereka apabila menyapa seseorang melalui telpon,mereka akan mengatakan ‘Moshi Moshi’ atau di kita biasanya bilang “Halo”, Moshi-moshi diambil dari kata ‘Mosu Mosu’.
 Yang Jadi pertanyaan,kenapa harus menyebutkan “moshi” secara dua kali?kenapa nggak sekali saja?,alasannya adalah karena Hantu! loh??!…..


 Berdasarkan Sejarahnya, mengucapkan “moshi Moshi” dua kali adalah cara untuk membuktikan bahwa kamu bukan Hantu, karena apabila hantu menyapa,mereka biasanya hanya dapat mengatakan “ moshi 1x..

Dan apa yang terjadi ketika hantu mengucapkan “moshi” satu kali dan kamu berbalik untuk menyapa-nya?..maka rohmu akan diambil oleh hantu itu!..haha,ada2 aja ya,tp namanya juga legenda ^_^…

 Dan oleh karena hal tersebut,makannya untuk membuktikan bahwa manusia yang menyapa,makannya menggunakan kata “Moshi Moshi” xD

refrensi japanesestation

Misteri Roh Halus Yurei Di Jepang

Berita Aneh - Di Jepang, hantu dikenal sebagai Yurei. Kata "Yu" yang berarti halus atau samar-samar, dan "Rei" yang berarti roh atau arwah. Mereka tidak memanggilnya dengan sebutan setan atau hantu atau jin. Berdasarkan kepercayaan orang Jepang, semua manusia mempunyai roh atau arwah yang disebut sebagai reikon. Setelah seseorang meninggal, reikon akan pergi meninggalkan tubuhnya ke tempat penyucian arwah.

Disana dia akan menunggu tubuhnya dikubur dan mendapatkan pemakaman yang layak. Kalau semuanya berjalan lancar, reikon akan melindungi keluarganya yang masih hidup. Dan dipercaya bahwa arwah orang meninggal tersebut akan kembali ke keluarganya setiap tahun (yang kemudian dinamakan sebagai festival Obon). Tapi kalau roh-roh tersebut tidak mendapatkan pemakaman yang layak, atau mungkin mereka meninggal karena dibunuh atau bunuh diri, reikon akan berubah menjadi yurei dan gentayangan di dunia manusia sampai rasa penasaran, amarah, dan dendam mereka hilang.

Yurei mempunyai wujud manusia yang memakai jubah kimono putih, tidak mempunyai kaki - alias melayang di udara, rambutnya panjang dan berwarna hitam. Umumnya, mereka juga dikelilingi oleh Hitodama, arwah yang berwujud api. Yurei tidak gentayangan secara leluasa. Mereka selalu gentayangan tidak jauh dari tempat mereka meninggal. Orang Jepang percaya bahwa Yurei mulai gentayangan pada saat gerbang dunia roh dan dunia manusia hampir menyatu yaitu pada jam 2-3 pagi.Yurei sendiri pun terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan cara mereka meninggal.













refrensi belajar-nihongo

Alat Musik Tradisional Jepang : SHAMISEN,KOTO & SHAKUHACHI

Tentang sejarah KOTO
KOTO adalah alat musik yang menyerupai kecapi di Indonesia, disebutkan masuk ke Jepang sejak abad ke-7. Di masa itu, KOTO dimainkan sebagai salah satu bagian musik Istana. Formasi KOTO yang dimainkan sebagai alat musik tunggal, tanpa iringan alat musik lain, menjadi populer di masyarakat sejak abad 17. Pada abad 17 lahir maestro KOTO dan pencipta “HACHIDAN”(delapan babak)”dan “MIDARE” (lagu berirama lepas) YATSUHASHI KENGYO. Ia menciptakan pakem dasar untuk SOKYOKU (lagu-lagu KOTO).
Pada dasarnya musik tradisional Jepang memiliki 5 tangga nada, kurang 2 tangga nada dibandingkan dengan musik barat yang mempunyai 7 tangga nada “do re mi fa so la si”. Namun, musik Jepang tradisional juga menyerap beragam tangga nada lainnya sehingga menghasilkan irama yang sangat berbelit. Dasar-dasar musik istana atau musik aristokrat diciptakan dengan menggunakan nada “do re mi so la” atau “re mi so la si”. Cara ini disebut “YO-ONKAI” yang memiliki nada yang relatif riang. Sedangkan YATSUHASHI KENGYO membuat “HIRAJOSHI” atau nada datar yang di dalam tangga nadanya menggunakan “mi fa la si do” yang di antaranya ada semitone sebagai nada dasar. Nada ini disebut “IN-ONKAI” yang lebih sendu dan menggugah emosi sehingga masyarakat Jepang di jaman itu kerap terharu mendengarkan nada ini. Setelah YATSUHASHI KENGYO memperkenalkan “HIRAJOSHI”, SOKYOKU sangat berkembang dan dicintai sehingga diakui sebagai musik rakyat Jepang.
YATSUHASHI KENGYO bisa disebut sebagai pencipta SOKYOKU dan meninggal dunia pada tahun 1685. Jika kita menengok ke negara barat, Bach, yang dikenal sebagai pencipta musik barat lahir pada tahun saat YATSUHASHI KENGYO meninggal.

Seputar alat musik KOTO
Bagian badan terbuat dari “KIRI” atau kayu paulownia yang dilubangi bagian dalamnya. KOTO memiliki 13 dawai. Karena KOTO menggunakan 5 tangga nada maka dengan 13 dawai biasanya KOTO dapat menghasilkan sekitar 2.5 oktaf. Antara bagian badan dan dawai ada “JI” sebagai penyangga dawai. Jika “JI’ digeser maka hasil suara pun berubah. Mengatur nada (tuning), yang merupakan persiapan dasar untuk permainan Koto, juga dilakukan dengan menggeser posisi “JI”. Selain “HIRAJOSHI”, ada berbagai aturan nada(tuning) yang dikembangkan dari “HIRAJOSHI”.
Dengan menggunakan tangan kiri yang menekan dan menarik dawai, tangga nada dapat berubah atau pun menghasilkan suara bernuansa vibrato. Pada awalnya dawai dibuat dari sutera, tetapi zaman sekarang dawai juga menggunakan bahan lain seperti bahan sintetis. Pemain dapat menggunakan “TSUME” atau kuku palsu untuk 3 jari di tangan kanan. Pada dasarnya KOTO dimainkan dengan menggunakan “TSUME” yang terkadang digunakan pada jari lain atau pun pada jari-jari di tangan kiri. Di dalam lagu SOKYOKU terkadang ada juga suara nyanyian.
KOTO memang dimainkan bukan untuk mengiringi nyanyian, tetapi suara nyanyian juga dianggap sebagai salah satu jenis alat musik. Dalam artian, alat musik dan suara sama-sama dianggap berperan penting untuk menghasilkan musik. Di Jepang, sejak zaman dahulu hingga saat ini KOTO sering diibaratkan sebagai “RYU” atau “Naga” sehingga bagian-bagian alat musik ini juga dinamai “RYUKAKU” (tanduk Naga), “RYUKOU” (mulut Naga), “RYUBI” (ekor Naga), dll. Di berbagai negara di Asia, naga dihormati seperti dewa dan dianggap sebagai mahluk mitos spiritual tinggi. Dengan demikian bisa dibayangkan bila KOTO juga sangat dicintai oleh masyarakat Jepang.

Seputar alat musik SHAMISEN
Orang Jepang kerap tergetar ketika melihat bentuk SHAMISEN yang sangat indah, bahkan ada yang berkata bahwa bentuk ini terinspirasi dari bentuk tubuh wanita. SHAMISEN mempunyai 3 dawai dengan ketebalan berbeda. Dawai yang paling tebal menghasilkan suara yang paling rendah dan dawai yang paling tipis menghasilkan suara yang paling tinggi.
Di antara bagian badan dan dawai ada “KOMA” untuk menghasilkan suara SHAMISEN. Waktu memainkan SHAMISEN kita harus memegang BACHI-pemetik dawai-dengan tangan kanan, dan menyapu dawai dari arah atas ke bawah atau dari arah bawah ke atas dengan ujung BACHI sehingga mengeluarkan suara. SAO yang panjang ini adalah bagian penampang kayu (fingerboard/neck) yang dipegang oleh tangan kiri. Pada bagian SAO tidak ada tanda untuk menunjukkan posisi tempat pegangan, tidak seperti gitar yang mempunyai fret. Pemain dapat menghasilkan suara SHAMISEN yang tepat dengan mengandalkan intuisi serta pendengaran yang dihasilkan dari pengalamannya. Bagian yang dipegang untuk menghasilkan suatu nada di dalam SAO ini disebut “TSUBO” atau “KANDOKORO”. Dengan tangan kiri pemain bukan hanya menekan dawai, tetapi juga menjepit dan meluncurkan jari serta menggoyangnya untuk merubah nada. Cara lain adalah dengan mengetuk dan memetiknya.
SHAMISEN terbuat dari “KOBOKU” atau ”Red Sanders” sejenis kayu yang sangat keras berasal dari India Selatan untuk menahan kuku pemain yang mencengkeram kuat. Dawai terbuat dari sutra dan “DO” (bagian badan) dibuat dari kulit binatang. Memang hampir semua alat musik tradisional Jepang seperti SHAMISEN dibuat dari bahan-bahan alami. SHAMISEN yang dimainkan menggunakan BACHI (pemetik dawai) berasal dari “SANSHIN”, alat musik tradisional daerah OKINAWA (daerah paling selatan di Jepang) yang menggunakan kulit ular. Pada abad 16 SANSHIN sudah populer di OKINAWA dan bentuk ini berkembang menjadi SHAMISEN khas Jepang yang dikenal saat ini. SHAMISEN tidak seperti KOTO yang berawal sebagai alat musik istana,yang dimainkan oleh kalangan elit. Dari awal SHAMISEN berkembang sebagai alat musik di antara kalangan rakyat biasa.
Musik SHAMISEN memiliki berbagai genre dan ada beberapa jenis alat SHAMISEN yang ukuran dan ketebalannya berbeda. Genre musik SHAMISEN yang akan dimainkan hari ini termasuk dalam kategori “JIUTA”. Ada jenis musik SHAMISEN yang berkembang sebagai pengiring atau suara efek di teater, tetapi “JIUTA” ini berkembang sebagai musik murni yang dimainkan bersama KOTO atau SHAKUHACHI, alat musik tiup tradisional Jepang. “SANKYOKU” adalah salah satu bentuk musik “ansambel” yang dimainkan menggunakan tiga alat musik tradisional Jepang yaitu SHAMISEN, KOTO dan SHAKUHACHI. Diperlukan waktu cukup lama sampai terlahir ansambel tiga alat musik ini karena masing-masing sudah dikenal masyarakat sebagai alat musik tunggal. Namun demikian, bergabungnya tiga alat musik ini, justru menghasilkan kualitas musik yang lebih kaya dan meluas.

Seputar alat musik SHAKUHACHI
Model SHAKUHACHI (seruling Jepang) yang dikenal masyarakat saat ini disebut “FUKESHAKUHACHI”, berasal dari zaman pertengahan era KAMAKURA. Pada zaman tersebut seorang biksu ZEN bernama Kakushin, belajar di negeri Cina dan mempelajari lagu SHAKUHACHI untuk menyampaikan ajaran FUKE, guru agama Budha aliran ZEN. Kakushin mempelajarinya dari seorang guru Cina, CHOSHIN, dan membawa pulang lagu dan alat musiknya ke Jepang. Sejak itu SHAKUHACHI digunakan sebagai alat penyebaran agama oleh biksu-biksu aliran HOTTOHA RINZAISHU, salah satu bagian dari aliran ZEN. Dari sejarah ini juga bisa diketahui bahwa semua lagu klasik SHAKUHACHI yang disebut “SHAKUHACHI KOTEN HONKYOKU (lagu klasik khusus SHAKUHACHI)” memuat ajaran agama Budha Zen. Ukuran panjang FUKE-CHAKUHACHI adalah kurang-lebih 54cm atau dalam satuan ukuran tradisional Jepang,1 SHAKU 8 SUN. Namun akhir-akhir ini ukuran panjang SHAKUHACHI bervariasi dan nada dasar ditentukan berdasarkan ukuran panjang tersebut.
SHAKUHACHI dibuat dari bambu, di bagian dekat akar, dengan diameter 3.5cm-4,0cm. Ada 5 lubang, 4 di bagian depan dan 1 di bagian belakang. Sisi dalam SHAKUHACHI digosok sampai halus, bahkan belakangan ini bagian dalamnya diolesi SHU-URUSHI (bahan pewarna alam berwarna merah) atau KURO-URUSHI (bahan pewarna alam yang berwarna hitam), agar menghasilkan suara yang halus dan indah. Dulu, bagian mulut SHAKUHACHI dipotong menyerong, tetapi sekarang pada bagian mulut dipasangi tanduk rusa atau kerbau supaya lebih kokoh. SHAKUHACHI merupakan seruling yang dapat menghasilkan warna suara yang bervariasi dan nada suara yang paling sensitif di antara seruling tradisional Jepang, baik seruling tiup samping (horizontal) maupun seruling tiup depan (vertikal). Oleh karena ciri khas itu SHAKUHACHI mempunyai posisi tersendiri di dalam alat musik tradisional Jepang.

source the japan foundation

Ukiyo-e

Sebelum komik tercipta, masyarakat Jepang mengenal selebaran-selebaran yang dibuat menggunakan teknik Ukiyo-e.
Ukiyo-e adalah sebuah aliran seni cetak dari cukil kayu, yang berkembang di awal periode Edo (1600-1868) dan menjadi populer terutama di kalangan kelas menengah. Subjek utama ukiyo-e cenderung terfokus pada kawasan prostitusi hingga teater-teater kabuki; berawal dari hanya sehelai kertas, hingga berbentuk album dan ilustrasi buku. Ukiyo-e berkembang di seantero Jepang, dan mendapatkan bentuk yang kemudian ciri khas mereka melalui dalam karya-karya yang dihasilkan di Edo (sekarang Tokyo) dari sejak tahun 1680an hingga 1850an.

Periode Awal Ukiyo-e
Lingkungan sosial yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya ukiyo-e, sudah ada sejak masa Kan-ei (1624-1644). Genre lukisan (fuzokuga) pada masa itu menggambarkan para pencari kenikmatan dari berbagai macam kelas sosial yang memenuhi distrik-distrik hiburan di sepanjang sungai Kamogawa di Kyoto. Pada distrik semacam yang juga ada di Osaka dan Edo, muncul gaya hidup bebas yang disebut dengan ukiyo, atau ‘dunia yang mengambang’. Bersamaan dengan itu muncullah genre seni ukiyo-e, yang mengagungkan gaya hidup seperti itu. Buku-buku petunjuk sex (shunga; secara harafiah berarti ‘gambar-gambar musim semi’) dan kritik wanita penghibur (yujo hyobanki) adalah hal-hal yang menjadi perhatian utama dalam cetakan ukiyo-e awal. Hishikawa Moronobu (?-1964) tercatat sebagai seniman shunga pertama. Setelah dia, shunga menjadi sebuah genre yang paling populer di antara seniman ukiyo-e. Kritik wanita penghibur, pada dasarnya adalah buku-buku gambar yang berisikan komentar, dan juga gambar dari para wanita penghibur terkemuka masa itu, dalam keseharian mereka, seperti membaca buku atau mengatur rambut mereka. Daya tarik utama dari adegan-adegan yang digambarkan itu terutama adalah pada pose dan bentuk kimono yang mereka kenakan. Gambar yang sejenis dengan gambar-gambar tersebut, disebut dengan bijin-e (gambar wanita cantik), yang menggambarkan para wanita penghibur dari kasta tertinggi (tayu). Gambar para wanita penghibur ini menjadi jenis gambar yang paling populer sepanjang sejarah ukiyo-e; aliran Kaigetsudo (awal abad 18) jarang sekali berpaling pada subjek gambar yang lain.
Ukiyo-e dari Edo
Pada akhir abad 17, pusat ukiyo-e telah bepindah dari Kamigata (daerah Kyoto-Osaka) ke Edo, dimana cetakan-kertas tunggal, sepertinya telah menjadi salah satu ciri khas Edo pada masa Genroku (1688-1704). Pengembangan cetakan-kertas-tunggal inilah, yang kemudian menandakan satu titik perkembangan dalam sejarah ukiyo-e, tanda kedewasaan genre ini, yang kemudian juga seringkali diasosiasikan dengan perkembangan Kabuki. Gambar para aktor (yakusha-e) dalam peranan mereka yang populer, menjadi subyek standar dalam ukiyo-e. Tapi adalah aliran Torii yang mendapatkan kesuksesan terbesar dengan mengadopsi teknik pembuatan api dari penampilan aragoto dalam bentuk grafisnya. Torii Kiyonobu I (1664-1729) dan Torii Kiyomasu I (1697-1720an) menyempurnakan sebuah aliran yang, dengan penggunaan warna yang berani dan bentuk-bentuk padat, terutama sangat cocok untuk menggambarkan subjek tentang teater, dan aliran mereka dengan cepat akhirnya memonopoli pemesanan di Edo dalam hal poster-poster teater (kamban) dan penjelasan program teater yang bergambar (ebanzuke).
Percetakan Warna
Pada tahun 1745, ditemukan sebuah teknik untuk menggunakan serangkaian blok, dan setiap blok akan mencetak warna yang berbeda-beda dalam satu helai kertas. Hasil cetakan dari teknik ini dinamakan benizuri-e (gambar-gambar yang dicetak dalam warna merah) karena warna paling dominan adalah warna merah, yang diambil dari bunga sari Safflower (benibana), dengan total tidak lebih dari 2 hingga 3 warna. Tahun 1764 cetakan berwarna yang penuh akhirnya dapat dihasilkan. Perkembangan ini sangat erat kaitannya dengan meroketnya popularitas Suzuki Harunobi (1725? – 1770). Pada tahun 1766 hampir semua pelukis ukiyo-e melukis dengan menggunakan gaya Harunobu. Cetakan jenis baru ini, disebut nishiki-e (gambar-gambar kain brokat), atau edo-e (gambar-gambar Edo), mewakili tahap akhir perkembangan teknik dari cetakan berwana pada masa Edo. Periode Keemasan Ukiyo-e Akhir abad ke-18 merupakan periode konsolidasi, daripada inovasi, dalam ukiyo-e; namun, perkembangan format oban dan pengenalan diptychs dan tryptychs pada akhirnya menghasilkan komposisi ukiyo-e yang lebih kompleks. Setelah 1790, gambar-gambar ukiyo-e mendapatkan intensitas baru, dan berbagai jenis gaya bergantian muncul dan menjadi populer dalam waktu yang sangat singkat. Kitagawa Utamaro (1753-1806) dan Sharaku (yang aktif mulai dari pertengahan 1794 hingga awal 1795) membawakan unsur realisme dalam gambar-gambar mereka, dan menimbulkan perasaan kedekatan yang lebih dalam dengan subjek mereka, melalui penggunaan format ookubi-e ( format dengan menitik beratkan lukisan pada bagian wajah sehingga tampil lebih besar dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya ) atau bust portrait. Perempuan-perempuan dalam gambar Utamaro, seringkali ditampilkan dengan sangat menawan, dan kadang-kadang malah sensual. Setelah tahun 1800, muncullah perubahan selera yang radikal, seiring dengan hilangnya inspirasi dalam hal ide rancangan serta menurunnya kualitas cetakan. Di masa ini, lukisan tubuh-tubuh pendek dengan pundak bungkuk dan garis-garis yang tajam, menggantikan bentuk-bentuk tubuh yang tinggi dan elegan dari tahun 1770an dan 1780an. Pola-pola kimono menjadi lebih kasar dan tajam, gambar-gambar aktor pun menjadi semakin dibesar-besarkan, dan tampak menyeramkan. Salah satu alasan dari perubahan ini adalah perubahan dalam publik pembeli hasil cetakan, yang semakin lama semakin banyak dan semakin tidak mempedulikan kualitas, yang pada akhirnya membuat cetakan-cetakan ukiyo-e diproduksi secara cepat dan dalam jumlah yang besar.
Pemandangan Alam
Kemunculan gambar-gambar pemandangan alam merupakan salah satu perkembangan terakhir dalam sejarah ukiyo-e. Sebelum gambar Katsushika Hokusai (1760-1849) berjudul Fugaku Sanjurokkei (1823, 36 Pemandangan Gunung Fuji), pemandangan alam tidaklah dipandang sebagai salah satu subjek lukisan dalam ukiyo-e. Seorang seniman yang aktif selama kurang lebih 60 tahun, Hokusai mengembangkan gaya lukisan yang sepenuhnya individual, mengkombinasikan pengaruh Cina dan barat, dengan sejumlah unsur dari aliran lokal seperti Kano, Tosa, dan tradisi Rimpa. Dia juga seorang pelukis yang luar biasa, yang menggunakan sejumlah teknik yang rumit untuk menciptakan serangkaian gambar yang mengesankan dalam kumpulan karyanya yang terkenal yaitu 13 volume Hokusai manga (1814-1849, Sketsa-sketsa Hokusai). Saingan utama Hokusai dalam hal pemandangan alam hanyalah Ando Hiroshige (1797-1858). Gambarnya yang terkenal seperti Tokaido Gojusantsugi (1833-1834, ‘53 Stasiun di jalan Tokaido’) telah membuat dia terkenal, dan pada saat yang bersamaan memunculkan sejumlah pemalsu. Dalam gambar tersebut, dan karyanya yang lain, Hiroshige menampilkan perhatiannya yang besar terhadap atmosfir, cahaya dan cuaca. Sebagai sebuah elemen yang menyatu erat dengan budaya pada masa Edo, ukiyo-e tidak mampu bertahan ketika masyarakat Edo dihancurkan oleh gerakan westernisasi radikal yang merubah Jepang dalam masa Meiji (1868-1912).

source the japan foundation

Zaman Jomon 縄文時代 jōmon jidai

Zaman Jōmon (縄文時代 jōmon jidai?) adalah sebutan zaman prasejarah kepulauan Jepang yang dimulai dari akhir zaman Pleistosen hingga zaman Holosen, bersamaan dengan zaman batu pertengahan atau zaman Batu Baru yang ditandai dengan mulai digunakannya barang-barang tembikar. Okinawa berada pada zaman tumpukan kulit kerang ketika kepulauan Jepang yang lain berada pada zaman Jōmon.
Kegiatan manusia pada zaman Jōmon dalam mencari makanan bergantung pada tempat tinggalnya. Manusia yang tinggal di daerah yang diberkahi kekayaan sumber alam mencari makan sebagai pemburu dan pengumpul jenis tanaman yang bisa dimakan. Manusia zaman Jōmon mulai mengenal kebudayaan tembikar yang bersifat artistik. Ada kecenderungan kebudayaan Jōmon lebih berkembang di Jepang bagian timur berdasarkan jumlah situs penggalian dan beragam jenis barang tembikar yang berhasil ditemukan.

sumber wikipedia

Zaman Paleolitik Jepang

Zaman Paleolitik Jepang (旧石器時代 Kyūsekki Jidai) diperkirakan dimulai sekitar 100.000 SM hingga 30.000 SM berdasarkan artefak alat-alat dari batu yang telah ditemukan, dan berlanjut sekitar 14.000 SM, pada zaman es akhir yang bertepatan dengan awal periode Mesolitik (zaman Jōmon). Keberadaan manusia di Kepulauan Jepang sebelum 30.000 SM–35.000 SM adalah kontroversial. Keautentikan artefak yang mendukung keberadaan manusia sebelum 35.000 SM di Kepulauan Jepang masih diragukan.
Fosil tertua tulang manusia ditemukan di Hamamatsu, Shizuoka. Penanggalan radiokarbon mengungkap fosil-fosil tersebut berasal dari sekitar 14.000–18.000 tahun lalu.

  •  Batu asah atau kapak batu situs Hinatabayashi B, Shinanomachi, Nagano. periode pra-Jōmon (Paleolitik), 30.000 SM. Museum Nasional Tokyo.

 

 

 

 

 

 

Batu giling dan batu asah

Alat-alat berupa batu giling dan batu asah dari periode Paleolitik Jepang diketahui termasuk paling tua di dunia, berasal dari sekitar 30.000 SM. Teknologi alat batu seperti ini umumnya dikaitkan dengan awal periode Neolitik sekitar 10.000 SM di bagian lainnya di dunia. Hingga saat ini tidak diketahui alasan alat-alat tersebut diciptakan begitu awal di Jepang. Meskipun demikian, periode Paleolitik Jepang umumnya terjadi ketika iklim dunia mulai menghangat (30.000–20.000 tahun lampau), orang-orang waktu itu mungkin telah menggunakannya.
Berdasarkan penemuan alat-alat batu tersebut, definisi periode Paleolitik Jepang berbeda dengan definisi umum periode Paleolitik menurut teknologi batu (alat-alat batu serpih). Alat-alat batu dari periode Paleolitik Jepang sudah menunjukkan ciri-ciri Mesolitik dan Neolitik paling tidak sejak 30.000 SM.

source wikipedia

Shogun Tokugawa Leyasu 徳川 家康


Tokugawa Ieyasu (徳川 家康; lahir di Okazaki, 31 Januari 1543 – meninggal di Shizuoka, 1 Juni 1616 pada umur 73 tahun; lahir dengan nama Matsudaira Takechiyo 松平 竹千代) adalah seorang daimyo dan shogun di Jepang. Pendiri Keshogunan Tokugawa yang memerintah Jepang sejak menaklukkan Ishida Mitsunari dalam Pertempuran Sekigahara pada tahun 1600 hingga Restorasi Meiji pada tahun 1868. Bersama dengan Toyotomi Hideyoshi dan Oda Nobunaga, Ieyasu adalah salah satu dari tiga pemersatu Jepang pada periode Sengoku. Ia memerintah dari tahun 1600 karena sepeninggalan Shogun Hideyoshi terjadi perebutan kekuasaan di antara para daimyo.daimyo Ieyasu akhirna berhasil merebut kekuasaan keshogunan.Perang saudara di antara para Daimyo memperubatkan kekuasaan keshoguna,terkenal dengan perang Sekighara.Ieyasu mendirikan dinasti shogun Tokugaw,Pemerintahannya dipusatkan di Edo.selama 264 tahun(1603-1868)dinasty Tokugawa berkuasa di jepang.Pemerintahanya dijalankan dengan cara diktator militer yang kejam.kekuasaany cenderung bersifat diktator militer yang kejam.kekuasaanya cenderung bersifat absolud seperti di dalam disiplin organisasi kemiliteran.


Biografi

Kehidupan Awal Ieyasu lahir di Istana Okazaki di wilayah Mikawa pada hari ke 26 bulan ke 12 dan tahun ke 11 tenbun, Kalender jepang. awalnya bernama Matsudaira Takechiyo, ia adalah anak dari Matsudaira Hirotada (松平 広忠), Daimyo Mikawa dari klan Matsudair, Ibunya bernama Odaikata (於大の方), putri seorang samurai Mizuno tadamasa. dua tahun kemudian, Odainokata di kirim kembali ke keluarganya dan tidak pernah kembali lagi.
Klan Matsudaira terpecah pada tahun 1550; di satu sisi memilih mengikuti Klan Imagawa dan di sisi lain lebih memilih Klan Oda. Akibatnya, Ieyasu menghabiskan Awal Kehidupannya yang dalam bahaya karena Dampak dari perang Oda-Imagawa. perseteruan Klan matsudaira muncul akibat dari pembunuhan Kakek Ieyasu, Matsudaira Kiyoyasu. berbeda dari ayahnya yang disenangi oleh Klan Imagawa.
tahun 1548, ketika Klan Oda menginvasi Mikawa, Hirotada meminta bantuan kepada Imagawa Yoshimoto, Daimyo Klan Imagawa, untuk mengusir Klan Oda dari Mikawa. Yoshimoto menyetujui untuk membantu dengan ketentuan Hirotada mengirim anaknya Takechiyo ke Sumpu sebagai sandera, Hirotada setuju. Oda Nobuhide, pemimpin Klan Oda, mempelajari tentang perjanjian ini dan menculik ieyasu dari Rombangan dalam perjalanannya ke Sumpu. saat itu Ieyasu baru berumur enam tahun.
Nobuhide mengancam akan mengeksekusi Takechiyo/Ieyasu kecuali ayahnya memutuskan semua hubungan dengan klan Imagawa. Hirotada menjawab apabila mengkorbankan anaknya akan terjadi masalah serius dengan klan Imagawa. meskipun menolak, Nobuhide memilih untuk tidak membunuh Takechiyo melainkan menahannya selama tiga tahun di kuil manshoji, Nagoya.
pada tahun 1549, ketika Takechiyo berumur tujuh tahun, ayahnya, Hirotada meninggal dunia. pada waktu yang hampir sama, Oda Nobuhide meninggal dunia karena wabah. kematiannya menjadi Pukulan berat bagi klan Oda. tentara di bawah Komando Imagawa, Sessai Taigen mengepung benteng yang menjadi tempat tinggal Daimyo baru Klan Oda, Oda Nobuhiro. dengan benteng yang akan jatuh, Sessai menawarkan pengepungan apabila Klan Oda tidak mau menyerah atau menyerahkan Takechiyo diambil sebagai sandera dan dibawa ke sumpu. disini ia mendapatkan kehidupan yang cukup baik sebagai sandera dan sekutu Imagawa yang berpotensi di masa depan.

source wikipedia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Link Exchange

Favicon1
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme